When you install WPML and add languages, you will find the flags here to change site language.

Lurik by Aji Bräm

When I heard that he was on the way back to Indonesia for business trip, I contact him immediately. Not just to interview him but also I want to get to know him better. The funny is, both of us live in Europe (he lives in Zurich) but we’ve never have chanced to meet each other. While I was in Jakarta too, I finally met him!

Born and grew up in Tulungagung East Java Indonesia, his experiences is quite interesting. Studied in Hospitality Switzerland, worked in hotel in Florida, London and Bali, Aji Bräm finally back to Switzerland but not to go back to work in the hotel. He has transformed himself as a designer specialty in Batik; one of Indonesian fabrics from Java province Indonesia. Now he has his own brand lurik by Aji Bräm based in Zurich.

Please tell me, since when did you start to design, using Indonesian fabric in Switzerland?

I always love to buy Indonesian fabric and I made something as a souvenir for my close friends in Switzerland. The Response was really good. They love it! Since then, I have more clients with different requests. Some of them fully trust me about my design from the beginning until the end and some of them came to me brought their own sample and asked me to made it exactly like that 😀  There is also some request to make drapery for their own house such as table cloths, bed sheets, curtains, pillowcases, etc.

One day, I met someone who works in logistic from Germany at Badminton field sport centre. He asked me if I could make uniforms for a cruise. Since then, I also made uniforms.

What kind of uniforms that you have made it so far?

Beside uniforms for the Cruise, I had made uniforms for The airline. Trigana Air. There is also some beddings and hotel supplies.

Looking at some of your collections seems you are using Batik a lot.

At the beginning I always used Batik. Who isn’t proud as an Indonesian using Batik? You know Batik is identic of Indonesian Fashion for ages. The early story is also interesting. It used to be wore by royal families only and now everybody wear batik. Despite Batik has it own story and quality, Batik also has its own art, has a lot of meaningful symbolic. For example, Batik Sogan with pattern “Sido Mukti” that used to wore special for the bride. The meaning of Sido Mukti is “Hope for Happiness”. This is one of batik patterns I mentioned just for example and there are so many patterns in Batik fabrics with different meanings.

In year 2012 I started using other Indonesian patterns and fabrics. For example a woven fabric Kediri that the local used to wore as a saroong goyor. Nowadays other fabrics can be made in different things such as bag, shoes, bagel, etc. The more I learn about the pattern & fabric of Indonesian, the more I proud and love Indonesia. I want to bring Batik to the higher level such as to International market but I knew it’s not easy.

Have you ever made for men’s wear?

Yes I have. I made coats and jackets often. Despite I don’t use batik fabric, I always try to find the fabric in Indonesia including wool.

Currently which one has more demand, uniforms or ready to wear?

The uniform has more demand recently and I am over whelming to receive their requests but I have to refuse for the moment to keep their trust and quality the product. I treat the same to other clients ready to wear. In fact the reason why my clients keep coming back because I give them comfort. When they call whether to get more information or complaints, I always there for them.

May I know starting how much for a dress you have sold so far?

I have sold my dresses starting from 600 CHF (swiss franc) until couple of thousands.

Please tell me more about IFBF (Indonesian Fashion and Batik Festival).

There are some Indonesian designers who live in Switzerland. I was thinking why not bring fashion of Indonesia here. By gathering young potential local designers in Indonesia, supported by Bandung City Council and Indonesian Embassy in Switzerland, finally we launched IFBF for the first time in September 2013 last year. We hope this event will be held every year.

What’s the future plan for a Aji Bräm?

Beside I want to develop more IFBF event in Zurich and Bandung, I also want to have more Lurik by Aji Bräm stores in Switzerland and Indonesia.

Batik Lurik oleh Aji Bram

Ketika saya mendengar bahwa dia sedang menuju ke Indonesia untuk urusan bisnis, saya hubungi dia secepatnya. Saya bukan hanya ingin sekedar interview beliau tapi saya juga ingin mengenal dia lebih baik lagi. Menariknya, Aji dan saya tinggal di Eropa (beliau tinggal di Zurich) akan tetapi kita belum pernah bertemu satu sama lain. Sementara saya di Jakarta juga, akhirnya saya bertemu Aji!

Lahir dan besar di Tulungagung Jawa Timur Indonesia, pengalaman beliau lumayan menarik. Belajar tentang perhotelan di Switzerland lalu bekerja di perhotelan di Florida, London dan Bali. Aji Bräm akhirnya kembali ke Switzerland bukan untuk bekerja di perhotelan akan tetapi dia merubah dirinya menjadi seorang designer spesialis di Batik; salah satu bahan traditional buatan tangan yang berasal dari jawa Indonesia. Sekarang dia mempunyai merk sendiri dengan nama lurik by Aji Bräm di Zurich.

 

Cerita dong, sejak kapan anda mulai merancang pakaian dengan menggunakan bahan motif Indonesia di Swiss?

Dari dulu aku senang membeli bahan dan aku buat sesuatu sebagai hadiah atau souvernir utk kawan2 dekat eropa saya. Responsenya mereka sangat suka sekali. Semenjak itu klien bertambah dengan permintaan yang berbeda-beda. Ada yang percaya sepenuhnya rancangan saya dari awal sampai akhir tapi ada juga yang meminta di jahitkan model baju dengan contoh yang mereka bawa sendiri 😀 Ada juga klien meminta dibuatkan dekorasi ruangan seperti seprai, curtains, taplak meja dan sarung bantal sofa.

Suatu hari saya bertemu seseorang saat sedang berlatih badminton yang bekerja di bagian logistic di german. Ketika dia mendengar saya bisa mendesign & menjahit, dia bilang kalau dia mencari seseorang untuk membuat seragam kru kapal pesiar. Semenjak disitulah saya mulai mengerjakan uniforms.

Jenis uniforms apa saja yang sudah pernah anda buat?

Selain uniforms untuk kru kapal pesiar, juga saya pernah merancang uniforms untuk kru maskapai penerbangan Trigana Air. Disamping seragam, saya juga membuat seprai dan mensuplai kain untuk hotel.

Dilihat dari sebagian rancangan anda, nampaknya sebagian besar menggunakan bahan batik ya?

Awalnya saya selalu menggunakan bahan dengan motif batik. Siapa yang tidak bangga menggunakan batik. Batik merupakan identik dengan fashion Indonesia yg usianya sudah ribuan tahun. Awal ceritanyapun juga menarik, dari kalangan keraton yang dulu hanya digunakan, sekarang semua kalangan memakai batik. Disamping itu batik mempunyai sejarah dan kualitas, batik juga ada ‘art’nya disitu yang penuh dengan simbolik-simbolik penuh banyak arti. Contohnya ada batik Sogan dengan motif “Sido Mukti” yg dulu digunakan untuk mempelai wanita. Arti Sido mukti itu adalah “harapan untuk berbahagia”.

Itu hanya salah satu motif batik dan masih banyak motif2 batik lainnya yang mempunyai makna yg berbeda2. Saya berharap ingin membawa batik ke tingkat yg lebih tinggi lagi seperti tingkat international akan tetapi itu tidak mudah. Nah menjelang di tahun ke 7, saya mulai menggunakan motif-motif kain Indonesia lainnya. Contohnya kain tenun Kediri yg dulunya dipakai hanya sebagai sarung goyor. Itupun kain2 motif Indonesia bisa juga dibuat ke dalam bentuk lain seperti tas, sepatu atau gelang atau aksesoris lainnya. Semakin saya mendalami kain motif Indonesia, semakin cinta dan semakin bangga dengan Indonesia.

Pernah merancang baju untuk pria?

Pernah. Lebih sering permintaanya untuk jas atau coat. Walaupun tidak menggunakan bahan batik, Saya selalu mengusahakan mencari bahan tetap di Indonesia walaupun bahannya wool juga.

Saat ini mana yg lebih banyak demandnya, baju seragam atau pakaian ready to wear?

Permintaan seragam makin bertambah akhir2 ini bahkan saya merasa kewalahan menerima permintaan mereka dan akhirnya saya tolak. Gak berani karena saya menjaga kualitas dan kepercayaan klien. Begitu juga sama dengan klien untuk pakaian ready to wear. Sebenarnya yang membuat klien kembali ke saya karena saya memberi rasa nyaman ke mereka. Setiap mereka telp, saya selalu ada bagi mereka.

Boleh tahu, berapa harga estimasi gaun yang pernah anda jual selama ini?     

Saya sudah menjual baju saya dimulai dari harga 600 CHF (swiss franc) sampai 2 ribu-an CHF.

Bagaimana awalnya tentang Indonesian Fashion & Batik Festival?

Ada beberapa designer Indonesia yang bermukim di Swiss. Timbul niat saya kenapa tidak membawa fashion Indonesia ke luar negeri. Dengan merangkul designer designer muda di Indonesia dan dukungan beberapa pihak termasuk pemda Bandung juga KBRI di Swiss, akhirnya kami menyelenggarakan IFBF yg diadakan pertama kali September 2013 tahun lalu. Kami berharap event ini diselenggarakan setiap tahun.

Apa harapan ke depannya seorang Aji Bram?

Selain saya ingin membesarkan event yang sedang saya rintis ini, IFBF di Zurich dan Bandung, saya juga ingin membangun toko Lurik by Aji Bräm, pakaian siap pakai dalam mass production di Swiss dan di Indonesia.

 

Isna Darmuis-Menneveux

Always lost in Paris. A fashion observer, food explorer, an Indonesian woman lives in Paris who loves to discover new things and frame it to her camera.