When you install WPML and add languages, you will find the flags here to change site language.

Kain Bentenan North Sulawesi

Kain Bentenan, is a traditional fabric woven by the ancestors of the people of North Sulawesi since the 7th century. Cain who was instrumental in the cultural and social life of the people of North Sulawesi, is woven with high weaving techniques and so slick. But after the war the Netherlands, the role of Fort fabric fade and disappear after last encountered in the area Ratahan 19th and early 20th century.

 

In last 2006, the Foundation Karema back to the community to socialize Kain Bentenan North Sulawesi Indonesia as well as the entire community at large. Rare motifs on the fabric, comeback a woven fabric, print fabric, silk, and chiffon fabrics. As JFFF held on May 17, 2014 some time ago, Kain Bentenan comes with motifs such as the scarcity of Turing patterns, Kekusi, Tolai, Patola, Kakunsi, Pinatikan, and motifs depicting icons such as island tourism in North Sulawesi and Bunaken marine park. MFJ-Jakarta

Kain Bentenan Sulawesi Utara

Kain Bentenan, adalah kain tradisional yang ditenun oleh leluhur masyarakat Sulawesi Utara sejak abad ke 7. Kain yang sangat berperan dalam kehidupan budaya dan sosial masyarakat Sulawesi Utara ini, ditenun dengan tehnik tenun yang tinggi dan begitu apik. Namun usai perang Belanda, peran kain Bentenan semakin pudar dan menghilang setelah terakhir ditemui pada daerah Ratahan abad 19 dan awal abad 20.

 

Pada tahun 2006 yang lalu, Yayasan KAREMA kembali mensosialisasikan kain Bentenan kepada masyarakat Sulawesi Utara serta seluruh masyarakat Indonesia secara luas. Motif-motif langka pada kain tersebut, kembali dikreasikan menjadi kain tenun, kain print, kain sutra, serta kain sifon. Seperti yang digelar pada JFFF 17 Mei 2014 beberapa waktu lalu, Kain Bentenan hadir dengan motif-motif langkanya seperti motif Turing, Kekusi, Tolai, Patola, Kakunsi, Pinatikan, dan motif-motif yang menggambarkan ikon pariwisata Sulawesi Utara seperti pulau dan taman laut Bunaken. MFJ-Jakarta

Isna Darmuis-Menneveux

Always lost in Paris. A fashion observer, food explorer, an Indonesian woman lives in Paris who loves to discover new things and frame it to her camera.